The Poker Face(R) |
Never believe in guys who are boasting their sufferings to win your heart. |

So, yeah, this is me with the same story (again), but at least I’m in progress to make myself better (at least for me, dammit did I just wrote “at least” twice? Okay, now three times. Whatever…)
So, yesterday, after waiting 6 hours to have a 15 minutes of bimbingan skripsi, finally I completed my Chapter 3 and now gonna start my Chapter 4. Kinda exciting and challenging in the same time, actually. Let’s see how long I can write it before the deadline haunts. Yiha!
*hosh hosh hosh capek ngetik pake Bahasa Inggris*
*pencet tombol bilingual ala-ala di Indosiar biar jadi bahasa Indonesia*
Jadi, kemaren itu hari yang menyenangkan lho. Selain gue akhirnya bisa tidur dengan jam normal dan jumlah tidur yang pas pula (yang mana udah lama gak pernah gue nikmatin), bimbingan skripsi gue lancar, kerjaan gue lancar, dan gue bahkan mengakhiri hari dengan dinner dadakan bareng Tony di Suju Ramen di sekitaran Balubur. You know how much I love Japanese foods, especially ramen and sushi >.<
Kita pun ngalor-ngidul dari gosipin anak-anak Twitter (as usual) sampai ngomongin outfit buat berangkat ke konsernya Kak Fikan ntar malem (24 Mei 2013 jam setengah 8 malem). Tetiba, gue pun tersadar: “Hari ini tuh tanggal berapa ya?” Gue lirik malu-malu LCD BB gue yang bercodet kayak Battosai si Pembantai daaaaan JENG JENG JENG, tanggal DUA PULUH TIGA dooong.
Gue sempet terdiam manis gitu setelah mendapati kalo kemaren tuh tanggal 23. Artinya, harusnya gue dan si mantan yang terakhir itu HARUSNYA udah 11 bulanan. Jeez… time flies, fellas. Bulan depan artinya udah setaun aja pertemuan gue dengan si mantan untuk pertama kalinya di escalator Blitz Paris van Java Mall. Dia dan batik ala-ala guru dan jaket tempat dia fitness-nya, sementara gue dengan polo shirt biru muda dan cardigans pertama yang gue beli dari gaji pertama gue.
Kalo diinget-inget nih ya, kejadian waktu gue akhirnya tatapan muka langsung sama mantan gue yang satu itu tuh persis banget kayak adegan di film TITANIC. Itu lhooo adegan si Rose yang turun dari tangga pake gaun kece buat dinner bareng si Jack. Bedanya:
> Rose rambutnya dikucir, gue dijambul
> Rose pake sarung tangan putih, gue pake sarung tangan item… eh, bukan deng. Emang tangan gue-nya aja ini mah yang belang :|
> Rose turun dari tangga, gue turun dari eskalator. (gue lebih sophisticated!)
> Rose dicium tangannya sama Jack, gue disambut sama senyuman si mantan (sama-sama romantis. Gak ada yang menang)
Anyway, asal lo lo lo lo (tunjuk ke sembarang arah) pada tau ya, gue udah AGAK move on lho. Lumayan lah. Every big step starts with the baby one, right? Jadi, ya santai aja kali. Yang penting ada progres-nya.
((( Tapi ya kalo bisa sih jangan kelamaan juga kali ya capek tiap tanggal 23 liatin foto mantan terus baca-baca BBM kita dari pertama kenalan sampe akhirnya putus LOL LMAO ROFL DIE )))
Udah ah segitu aja. Pokoknya, di tanggal 23 yang ke-11 kemarin ini, gue deklarasikan bahwa:
> Gue udah lumayan move on, terbuktinya dengan lupa-nya gue buat ‘ngerayain’ tanggal 23 ini (in a desperate and pathetic way).
> Gue juga udah move on dari bab 3 skripsi gue. Heyho, bab 4!
See you when-when!
(Liat kamu kapan-kapan—red)
“Oh, I was just so sure of everything
Oh, that’s what you get for dreaming aloud
Oh, the day that words are clearer to me.”
Diamond Tears of Lana Del Rey.
“Ini konser pertama aku.”
“Pertama banget?”
“Iya, pertama banget.”
“Pertama banget banget banget?”
“Iyaaa. Pertama,” ujarnya.
Terima kasih kembali untuk KONSER DIORAMA-nya @tulusm .
“Konser Diorama” by Tulus // May, 9th 2013 @ Dago Tea House, Bandung.

“Apa lagi sih yang lo tunggu?” tanya teman saya dengan bola mata memutar, seolah sudah muak dengan curhatan saya yang masih seputar itu-itu saja selama tujuh bulan ke belakang ini.
Dan jawaban saya juga masih itu-itu saja: “Gue gak nunggu apa-apa dan siapa-siapa.”
Tentunya, teman saya itu bertanya lagi, “Terus kenapa masih bahas dia terus?”
Saya jawab pertanyaan itu dengan senyum, kadang dengan tertawa tanggung atau menyeringai minta dimaklumi.
Saya punya jawabannya, tapi cukup saya simpan di dalam hati. Toh, walaupun saya jawab, yang ada nanti teman saya malah nanya balik lagi dan pembicaraan kita tidak akan selesai sampai kapanpun, karena saya selalu punya topik pembicaraan yang berkaitan dengan seseorang yang pernah menjadi yang sangat teristimewa di hari-hari saya itu.
Tujuh bulan kemarin rasa-rasanya saya jalan di tempat. Sempat maju beberapa langkah dengan susah payah, tapi sepertinya tangan-tangan jahil dari masa lalu itu selalu punya cara untuk mencengkram erat tangan dan kaki saya. Bahkan, beberapa tangan mereka memaksa untuk menolehkan kepala saya ke belakang… ke masa lalu.
Padahal, di masa lalu itu kenangan pahitnya jauuuh lebih banyak ketimbang kenangan manis. Namun, entah mengapa terkadang saya justru menikmatinya. Saya selalu pura-pura bahwa kenangan pahit itu tidak ada dan saya hanya berkonsentrasi terhadap kenangan manis yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari-jari manusia. Ibarat buku, kenangan manis itu saya baca lagi dan lagi sampai saya benar-benar hapal detail di setiap kenangan itu. Bahwa saya bersyukur pernah punya kenangan manis seperti itu, terutama dengan dia.
Tapi, menyadari bahwa saya membutakan diri dari kenangan pahit yang ada—yang justru lebih berguna untuk masa depan saya karena mereka adalah sebuah pembelajaran—itu bodoh sekali. Saya tak lebih dari seorang keledai yang berhasil keluar dari lubang perangkap dan diam di atas atas pinggiran lubang tersebut dan mengenang bahwa pada saat di dalam lubang, saya pernah menghabiskan waktu yang sangat menyenangkan walaupun hanya sebentar, tak memedulikan rasa sakit di sekujur tubuh saat pertama kali jatuh ke lubang itu. Tak memedulikan sakitnya tenggorokan yang tak henti berteriak minta tolong untuk dibantu keluar dari lubang yang entah kenapa nyaman tersebut.
Kemudian, saya menyadari bahwa tak ada keledai yang mau mengenang masa-masa saat ia jatuh ke dalam lubang. Mereka hanya mengingat bahwa mereka pernah jatuh ke lubang itu dan sampai mati nanti, mereka tidak akan jatuh ke lubang yang sama. Well, keledai tidak bodoh. Saya justru yang bodoh. Dan kebodohan ini datang karena saya masih bisa merasakan yang namanya… kangen.
Saya kangen. Kangeeen sekali sama kamu.
Saya ingin memastikan kalau kedua bola mata kamu masih teduh.
Senyum kamu masih mengembang.
Badan kamu masih tegap dan sehat.
Dan kata-kata yang kamu ucapkan semua nyata.
Dan untuk memastikan itu, rasa-rasanya saya cuma butuh waktu lima menit saja. Tak lebih.
Setelah itu, kamu menghilang sampai saya mati pun saya tidak peduli.
Jadi, kalau kamu suatu hari bertanya, “Kenapa kamu masih sering bahas soal saya ke teman-teman kamu?”, jawaban dari saya sederhana, “Saya kangen kamu.”
Dan rasa kangen inilah yang membuat saya bodoh…
5 Mei 2013 / 00.36 pagi
| Mas Yuki: | Si Alqa itu kelahiran tahun berapa sih? |
| Ranna: | Tahun 1992. |
| Mas Yuki: | Ah, cuma beda dua tahun sama aku. |
| Ranna: | ... dua tahun cahaya ya maksudnya? |
[Ranna & Fikan]: Basah.
We are just trying to figure each other out.
officially my all time favorite post
most men are only...
Lana Del Rey’s Grandmother, Beatrice Dautresme for Vogue, Paris 1969
awh, see Lana was destined.
We never know about the future, but with you, I don’t want to end up being two strangers with some memories left. Not now, not soon.
Real talk.
how to: long relationship
Another ‘spot the theme’ post